Sadie

DSC05914

Aku baru saja bangun ketika kudengar suara derak pintu kamar tertutup. Pelan-pelan aku menginjak lantai kayu yang terasa agak dingin dan berangsur-angsur turun dari tempat tidur. Kuraih lilin yang menyala di dalam gelas, ibu suka sekali meletakkan lilin yang menyala di sana agar lilinnya tidak mudah jatuh dan api tidak menyambar tirai jendela kamarku. Setengah mengendap aku melangkah menuju pintu. Kutarik gagangnya. Bunyi suara pintu terbuka terdengar sangat keras. Aku mengerut dahi, sampai memicingkan mata berharap ibu tidak mendengar suara gaduh itu.

Tiba-tiba aku terkejut, dari ujung ruang tengah kudengar seseorang seperti berbisik. Lampu tidak menyala karena dipadamkan oleh hujan deras. Jika ibu sudah tidur lantas siapa yang masih berada di ruang tengah? Aku melangkah pelan menuju ruang tengah. Rasa ingin tahuku tinggi. Tapi aku tidak melihat siapa pun di sana. Mungkin karena cahaya dari lilin tidak terlalu membantuku melihat dalam ruang gelap.

Aku merinding. Jantungku berdegup kencang. Dengan lekas aku balik arah kembali ke kamar. Namun suara bisik-bisik itu terus mengganggu pendengaranku. Suara itu seolah-olah ingin mengajakku ke suatu tempat. Tempat yang sangat indah. Aku kembali melangkah ke ruang tengah. Berjalan menuju perapian yang tidak lagi menyala. Ibu hanya akan menyalakan jika salju turun dan suhu membuat tubuh membeku. Mencari kayu untuk dibakar sekarang sangat susah, keluh ibu pada beberapa minggu lalu. Di dalam perapian itu, suara orang berbisik-bisik itu makin jelas kudengar. Ia tertawa-tawa sambil terus mengajakku untuk mengikutinya. Aku meneliti sekeliling perapian. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya debu dan abu bekas pembakaran.

Petir tiba-tiba menggelegar. Aku terperanjat kaget. Lilin di tanganku jatuh. Buru-buru kuambil sebelum apinya menjilati karpet merah kesayangan ibu. Tapi suara bisik-bisik itu terdengar semakin jelas, dan semakin memaksaku untuk mendekati perapian. Ia mengajakku masuk ke dalamnya. Mereka bilang aku akan bertemu dengan kelinci berdasi dan manusia permen. Di sana aku bisa tidur di atas gula kapas dan marshmallow serta berteman dengan para kurcaci dan bermain di dalam poci raksasa. Aku sumringah mendengar rayuannya. Kubiarkan lilin yang jatuh tersebut karena suara bisik-bisik itu bilang dia tidak punya banyak waktu untuk menungguku. Mendadak aku ingat ibu, apa ibu marah jika aku pergi sebentar saja dengan teman baruku? Aku terdiam untuk beberapa detik lamanya. Lalu suara bisik-bisik itu meneriakkanku, agar aku cepat masuk dan mengikutinya. Aku kembali berjalan, sembari menundukkan badan masuk ke dalam perapian karena perapian tersebut tidak terlalu besar.

Beberapa menit kemudian, cahaya putih yang menyilaukan menyambar kedua mataku. Kuhalangi kilauan cahaya tersebut dengan telapak tanganku. Betapa kagetnya aku melihat seekor kelinci paskah berdasi dan bertubuh besar sudah berdiri di hadapanku.

“Sadie, hey… Sadie, beruntung kau tidak tersesat. Selamat datang di Miniutopia!” Kelinci besar itu bisa bicara, Ibu!

Ia lantas tersenyum tanpa henti melihatku. Kelinci itu memberiku setangkai lolipop berukuran sangat besar. Aku jadi ingat dua tahun yang lalu di taman ria, ibu tidak mau membelikankan lolipop besar seperti ini. Hahahha… sekarang lolipop itu ada di tanganku. Rasanya manis sekali!

“Sadie, hey, Sadie… kemarilah ikut aku. Akan aku perlihatkan dunia yang sangat kamu mimpikan.”

Kelinci itu menjabat tanganku, dan membawaku menaiki sebuat bukit rumput yang sangat hijau. Lalu betapa kagetnya aku, di balik bukit itu kulihat dunia yang selama ini aku inginkan. Para boneka berlari-lari riang dan saling berkejaran. Kurcaci-kurcari bercanda dan saling tabrak dalam permainan poci raksasa. Dan hewan-hewan lucu seperti kelinci, hamster, marmut, kucing dan kupu-kupu mereka saling bercengkrama seolah berteman akrab. Jalanan ditumbuhi oleh berbatang-batang permen serta lolipop. Tanah yang terbuat dari marshmallow dan rumput dari gula-gula kapas. Air sungai berwarna merah dari jus stoberi. Dan hujan berwarna putih dari susu! Ini surga! Ini surga! Teriakku dalam hati. Ibu harus melihat ini semua. Ibu harus percaya apa yang selama ini aku mimpikan ternyata bisa jadi kenyataan.

“Kau mau kemana, Sadie? Menemui ibumu? Maaf tidak bisa lagi. Kau harus tinggal di sini selama-lamanya. Bukankah itu yang kau inginkan?” Kelinci itu merentangkan kedua tangannya, menjadi pagar betis penghalangku.

“Mengapa? Aku hanya ingin memperlihatkan ini pada ibu.” Aku memaksanya namun kelinci itu semakin kuat berdiri menghalangiku.

“Sadie, oh, Sadie… Mulai sejak kamu memutuskan untuk ke Miniutopia, kamu sudah tidak ada hubungannya lagi dengan ibumu. Biarkan ibumu hidup dengan segala perjuangannya di sana dan kamu hidup bersenang-senang di sini.”

“Tapi… ini tidak berarti apa-apa tanpa ada ibu.”

“Sadie, oh, Sadie… sesungguhnya kamu tidak boleh menyesali jalan hidupmu. Mari sini, biar kupeluk. Kamu hanya butuh kehangatan. Kamu tidak lagi membutuhkan ibumu. Biarkan beliau, biarkan.” Kelinci besar itupun langsung memelukku. Kulirik pintu masuk menuju Miniutopia, dari sana kudengar samar-samar suara ibu berbisik, memanggil namaku.

“Sadie… Sadie…”

***

 

 

keterangan foto

model       : Florentia Farahrozi

fotografer: Restu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s