Kota Yang Seperti Hatimu

Dari Bukit Cangang, Bukittinggi
Dari Bukit Cangang, Bukittinggi

“Kembali ke kota itu hanya untuk menemui gerimis, jalanan lengang dan rumah-rumah tua.  Selebihnya ialah kekosongan yang ramai seperti hatimu.”

Hari ini, dia pun tidak jadi datang. Aku mulai menggigil duduk sendiri di halte menunggunya. Pesan singkat itu kubaca berkali-kali seraya bolak-balik memandangi ujung jalan berharap menemukan ia tengah berjalan terburu-buru karena terlambat. Aku mendengus, menghela dan menghembuskan napas berkali-kali. Sudah kuhafal pamflet-pamflet yang banyak ditempel di dinding halte. Mulai dari iklan lowongan pekerjaan, buka jasa rental mobil, rental komputer, reparasi motor, permak jins, dicari guru privat bahasa inggris, iklan susu kuda liar, iklan orang hilang sampai isinya tentang cari jodoh. Semua sudah kuhafal benar di dalam kepala. Selain karena sudah menunggu lama berhari-hari di sini, aku juga sudah kehabisan bahan bacaan. Buku-buku yang kubawa untuk mengisi waktu sembari menunggu sudah habis kubaca semua. Karena takut bosan, kubaca saja apa yang terlihat.

Kenapa lagi dia tidak jadi datang? Sudah kusiapkan banyak rencana untuk dilakukan bersama dia. Ternyata semua pupus sudah. Ah, tapi mengapa aku masih terus berharap dan terus saja menunggunya. Besok lagi, besok lagi, sampai besoknya lagi. Dan aku tidak pernah bosan menunggu begini. Walau terkadang mati kutu juga. Menunggu dia, membuatku bertemu dengan banyak orang di kota kecil yang dingin ini. Setiap hari orang yang duduk bersamaku di halte selalu berganti-ganti. Kadang mereka ramah sekali, kadang mereka hanya diam tidak menganggap, kadang juga mereka seperti memusuhiku. Ada yang dengan senang hati memberi sekotak cokelat padaku, ada juga yang menawarkan minumannya, juga ada yang melempar batu padaku. Aku berharap yang mereka lempar itu batu bacan (hehehehe…).

Sudah berhari-hari aku melihat layang-layang tersangkut di atas pohon akasia. Mulai sejak layangan itu masih utuh dengan benang panjang yang masih menjuntai. Sampai perlahan-lahan layangan itu sudah tinggal rangka lidinya saja. Hingga perlahan-lahan mulai patah dan jatuh. Aku mengamati benar proses metamorfosisnya itu, walau pun layangan bukanlah ulat kepompong. Kupikir itu bisa dijadikan semacam siklus. Aku pikir.

“Sebelum hujan di kotamu, aku harus sudah berada di sana.”

Pada kenyataan hanya pesan-pesan singkatnya saja yang sampai padaku dan kubaca berkali-kali. Tapi dia tidak pernah sampai di kota kecil yang dingin ini. Hujan terlanjur jatuh di tengah perjalananya. Sejak itu ia tidak pernah kutemui di mana-mana.

Tapi aku masih berharap, mungkin saja besok dia akan datang. Membawa sesuatu yang hangat, selain kenangan.

 

6 tanggapan untuk “Kota Yang Seperti Hatimu

  1. kabar baik. wah, ini serius no. hpnya dicantumkan disini? hmm…. maaf sepertinya saya tidak akan sms hehehe… maaf ya tapi jika ada yang penting tidak apa-apa 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s