Sepuluh Tips menulis dari spoila.net

Disiplinlah!

Apakah Kamu pernah bertekad untuk menulis 2 halaman setiap hari? Atau menulis 2000 kata dalam seminggu? Tapi ternyata mandeg? Barangkali kamu kurang disiplin. Coba deh dengerin omongan penulis yang satu ini.

“Sepanjang karier saya, saya telah menulis 1.000 kata sehari–bahkan jika saya dalam keadaan mabuk. Kamu harus mendisiplinkan diri sendiri kalau kamu mau profesional. Tidak ada cara lain.”

– J.G. Ballard

 

Selalu Siap Sedia Notebook di Tangan

Inspirasi bisa datang kapan saja. Enggak kenal waktu. Kamu harus segera menangkapnya kalau enggak mau kehilangan. kamu bisa saja menulis di sobekan kertas dari memo rekan kerja. Namun, cara itu bisa membuat ide-ide kamu jadi tercecer terus hilang. Atau tersimpan di saku baju, lalu tercuci dan akhirnya pudar enggak kebaca. Biar kamu enggak ngalamin nasib sial seperti itu, kamu harus sedia notebook. Kalau kamu enggak mungkin bawa notebook, gunakanlah benda yang selalu kamu genggam itu: Smartphone!

“Selalu bawa notebook. Maksud saya SELALU. Memori jangka pendek hanya bisa bertahan selama tiga detik; rekamlah ide kamu itu dalam kertas atau akan hilang untuk selama-lamanya.”

Will Self

 

Tulislah Apa yang Ingin Kamu Baca

Jangan pernah kamu menulis apa yang orang lain ingin baca: tulislah tentang sesuatu yang kamu akan jatuh hati kalau kamu membacanya. Kalau kamu saja udah suka dengan apa yang kamu baca, orang lain juga akan merasakan hal yang sama.

“Jika kamu mau membaca sebuah buku, namun buku tersebut belum ada. Maka, tulislah buku tentang itu.”

– Toni Morrison

 

Kamu Membaca maka Kamu Bisa Menulis

Menulis tanpa membaca ibarat lapar, tapi enggak mau bergerak cari makanan. Bakal kelaparan terus! Nah, begitupun dengan menulis. Kalau kamu malas membaca, enggak ada yang bisa kamu tulis.

Membaca akan memperkaya perbendaharaan kata kamu. Para penulis terbaik adalah pembaca yang gila. Baca semua apa saja, janganlah membatasi diri untuk membaca buku tertentu saja. Baca juga buku-buku yang tidak kita sukai. Misalanya saja, kamu mau mengritik emansipasi wanita, tentu kamu harus paham apa sih emansipasi wanita versi mereka. Kalau kamu enggak baca, dari mana kamu bisa tahu? Baca!

“Baca, baca, baca. Bacalah apa pun: sampah, klasik, baik dan buruk, dan lihatlah bagaimana mereka melakukannya. Sama seperti seorang tukang kayu yang magang dan belajar pada sang ahli. Baca! Kamu akan menyerapnya. Kemudian tulislah. Jika itu baik, kamu akan tahu. Jika tidak, buanglah keluar jendela.”

– William Faulkner

 

Biarkanlah Ide Mengalir, Bahkan saat Kamu Merasa Tidak ada yang Bisa Kamu Tulis

Kadang, penulis suka merasa apa yang mereka tulis sebagian besarnya adalah omong kosong. Bualan semata. Apakah kamu suka merasakan hal yang sama? Merasa semua hal ini sia-sia. Jangan sampai hal itu mengendorkan semangat menulis kamu. Perlu kamu ketahui kebanyakan penulis sebelum kamu juga merasakan hal yang sama persis: ragu, enggak berdaya, dan nge-’hang’.

Kalo kamu perhatikan, kebanyakan tulisan penulis besar berisi penjelasan dan dialog-dialog yang panjang dan sebenarnya tidak perlu. Namun, mereka tetap menuliskannya. Soalnya, pasti ada beberapa dari pernyataan dan dialog mereka yang berharga bagi pembaca. Semacam motivasi atau pencerahan.

“Ketika aku menulis, aku seperti tidak mempunyai tangan dan kaki. Hanya seorang lelaki dengan krayon di mulutnya.”

– Kurt Vonnegut

 

Write Hot, Edit Cold

Pernah bangun malam-malam, ‘mendusin’, lalu di kepalamu ada paragraf yang ingin dituliskan, maka segera tulislah. Jangan menunggu pagi, bisa jadi seiring kamu bangun lagi, ide itu hilang. Bangun saja dulu sebentar, tulis beberapa kalimat atau paragraf. Setelah itu tidur kembali. Saat pagi-pagi kamu bangun dan bersemangat, ide tersebut akan terekan di kepala kamu dan kamu akan enjoy menuliskannya.

Teruskanlah menulis, jangan hiraukan dulu kata-kata yang kurang sesuai. Hidarilah dulu memikirkan tata bahasa sesuai EYD. Teruslah menumpahkan segala apa yang ada di pikiranmu itu.

Jika kamu masih saja menghiraukan kaidah-kaidah tata bahasa atau sebut saja editing, maka waktumu akan habis disana. Kamu akan mengutuk jeleknya tata bahasamu dan akhirnya hilanglah mood kamu. So, tulis saja apa yang kamu ingin ungkapkan, edit urusan belakangan.

“Draft pertama dari semuanya adalah omong kosong.”

– Ernest Hemingway

 

Tulis, Tulis, dan Tulis. Lalu Tulislah yang Lainnya

Satu-satunya cara agar kamu bisa menulis adalah dengan menulis. kamu enggak bakal bisa jadi penulis tanpa menulis. Jangan biarkan pena tergeletak diam. Jangan biarkan layar komputermu menyala tanpa menuliskan sepatah kata pun.

Jangan pikirkan kamu sedang menulis novel, tapi menulislah. Jangan pula meneliti tiap kata dan susunan kalimat demi mencerahkan orang lain. Nikmati saja aktivita menulis kamu. Lalu menulis lagi. Dan terus menulis.

“Merencanakan menulis maka tidak akan menulis. Mengurai…. meneliti…. berbicara dengan orang lain tentang apa yang kamu lakukan bukanlah menulis. Menulis adalah menulis.”

– E.L. Doctorow

 

Kamu Gagal maka Kamu Belajar

Kadang saat kamu usai menulis dan menyodorkannya kepada editor atau teman-teman kamu, banyak sekali hal-hal yang salah. Kurang greget. Don’t worry, it’s okay. Beneran! Kesalahan-kesalahan itu akan memicu kamu untuk menjadi semakin baik lagi. Kamu akan tahu mana yang pas atau kurang. Tanpa kesalahan itu, kamu bagai kura-kura dalam tempurung kelapa, merasa benar sendiri, ups… jangan sampai kayak gitu.

“Kami belajar dari kegagalan, bukan dari keberhasilan!”

–  Bram Stoker

 

Gambarkan, Jangan Katakan

Kebanyakan penulis pemula sering terlalu banyak menceritakan sesuatu. Berikanlah sedikit deskripsi akan sesuatu itu dan biarkalah pembaca berimajinasi tentang gambaran itu di kepala mereka.

“Jangan beritahu aku bahwa bulan bersinar; gambarkanlah untukku kilatan cahaya pada pecahan kaca”

– Anton Chekhov

 

Tulis apa yang Kamu Kuasai

Kamu punya pengalaman seru? Pengalaman yang orang lain enggak mengalaminya? Kadang beberapa pengalaman kita tidak terbayangkan oleh khayalan orang lain dan bisa jadi hal itu menarik bagi mereka. Kamu pasti punya petualangan yang menakjubkan. Atau kamu punya ungkapan-ungkapan khusus yang orang lain tidak mengetahuinya, so, tulislah tentang itu.

Jangan sungkan untuk menuliskan mimpimu menjadi sebuah cerita. Seaneh apa pun mimpi itu, kalau kamu memang tertarik dan kamu punya gambaran detail, why not, it’s about you. Tentang kamu, pasti lebih seru.

“Ceritakan kisah kamu. Jangan ceritakan cerita yang orang lain sudah pernah menceritakannya. Karena [sebagai] penulis awal, kamu selalu mulai dengan apa yang diucapkan orang lain–kamu telah memperhatikan orang lain selama bertahun-tahun … Tapi, secepat kamu bisa, mulailah menceritakan kisah-kisah yang hanya kamu yang tahu–karena akan ada penulis yang lebih baik dari kamu, akan ada penulis yang lebih pintar dari kamu … tetapi kamu adalah satu-satunya dirimu.”

– Neil Gaiman

 

http://spoila.net

2 tanggapan untuk “Sepuluh Tips menulis dari spoila.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s