“Muntah”: sesuatu yang sama-sama tidak pernah kita inginkan terjadi

SEMC 3MP DSC
                                  tujuan kita masih sama kah?

Dari beberapa minggu lalu ingin posting, tapi selalu tak jadi karena… “muntah” itu. Saya menyebutnya “muntah” sebab, saya terkena cipratan “muntah” itu. “Muntah” dari seorang teman yang membuat saya menguras pikiran dan tenaga untuk membersihkannya, untuk menghilangkan baunya, untuk memperhatikannya agar tidak “muntah” lagi. Sehingga sejak kejadian ia “muntah” itu, saya tidak mampu untuk kembali ke tempat di mana saya mengenalnya. Setiap saya ingin kembali, saya teringat akan “Muntah”-nya. Setiap saya mengingat “Muntah” itu saya kembali dilingkupi berbagai perasaan yang lemah sekaligus kuat. Perasaan kecewa, malu, marah, prihatin, sedih, murka, pilu, kaget, perasaan ingin menjauhinya, perasaan kasihan, tidak tega, muak, dan lelah memenuhi isi kepala dan hati. Saya ingin tinggalkan ia dengan jejak “Muntah”-nya. Namun… saya tidak tega.

Ketika saya dan dia dalam perjalanan pulang ke rumah kami masing-masing ke kota yang sama, sehabis seharian saya menemani dia mengurusi “Muntah”-nya di kantor polisi yang ruangannya dipenuhi asap rokok dan membuat saya tidak bisa berhenti batuk selama hampir 3 hari dirumah. Ya, ketika senja menjelang gelap itu… saya duduk di samping jendela mini bus yang menebarkan warna senja agak mendung, dan dia duduk di samping saya… sedang memeluk tas ranselnya dengan pandangan kosong.. kami tidak tahu harus bersikap bagaimana tapi saya mencoba menipu diri sendiri, menipu dia dengan menawarkan sepotong pergedel jagung yang masih hangat, sambil tersenyum dan tertawa karena saya tahu ia belum makan apapun sejak hari kemaren. Ia mengambil pergedel itu secuil, dan ia berkata “Aku jadi ingin coba, karena melihatmu makan ini. sepertinya asyik.” Dalam hati saya berkata, di saat2 aneh seperti ini, kita bisa saja tertawa pada sesuatu yang biasa saja seperti pergedel ini.

Setelah hari terlihat sangat gelap dan hanya diterangi lampu-lampu dari mobil yang melintas, di dalam mini bus itu, pelan-pelan saya melihat dia. Dia tertidur pulas sambil memeluk ranselnya. Tiba-tiba saya teringat malam di hari ketika ia “Muntah”, berkali-kali ia meminta saya untuk jangan meninggalkannya. Untuk jangan pergi barang sedetikpun sehingga ketika saya ingin ke toilet saja, dia merengek untuk jangan terlalu lama meninggalkannya. Mengingat malam itu, air mata menetes pelan-pelan di pipi, mungkin karena kegelapan membuat saya jadi melankolis, atau mungkin karena saya bisa bebas jujur dengan perasaan saya setelah saya tahu dia sudah tertidur dan tidak akan melihat saya seperti ini di dalam gelap. Berkali-kali saya menyeka air mata dari balik kacamata. Sambil mendengarkan musik dari headset yg di hubungkan ke handphone, saya menjadi pengap karena berusaha menahan isak tangis. Dalam hati saya bertanya2 pada orang yang duduk di samping saya, mengapa ia melakukan itu? bagaimana mungkin? sebenarnya siapa teman saya ini? sampai saya membuat tulisan hampir menyerupai puisi untuk melampiaskan kekecewaan saya terhadapnya. Untuk menggambarkan kesedihan saya tentang kisahnya. ode to she…

Setelah kami tiba di kota tempat tinggal kami, ia yang lebih dulu menyetop mini bus dan pulang. Sebelum ia bergegas keluar dari mini bus, saya berbisik padanya untuk langsung pulang ke rumah, jangan kemana-mana, jangan berbuat sesuatu yang konyol seperti tiba-tiba berhenti di tengah jalan raya agar bisa ditabrak mobil atau menyayat pergelangan tangan dengan silet. Mendengar hal itu, ia tersenyum pada saya. Dengan tegas ia katakan, bahwa ia bukanlah orang yang dengan mudah berbuat bodoh. Menanggapinya, saya tersenyum, sebenarnya senyum getir, karena sepertinya ia tidak sadar telah berbuat sesuatu yang bodoh dan konyol makanya saya terciprat “Muntah”-nya.

Saya tidak tahu apakah postingan ini dibaca orang-orang yang mengenalnya, tapi saya rasa hanya saya dan pembaca asing yang membacanya. Semoga. Saya tak bearharap ada orang yang mengenali kami membaca ini karena perumpaan saya terhadap kejadian ini agak sarkastik. Saya hanya ingin melampiaskan kejadian yang sangatmengganggu pikiran saya ini yang membuat tidur saya terganggu, karya ilmiah saya terguncang, saya takut kamar kos, dan membuat saya menjadi tidak mudah percaya pada orang-orang yang saya kenal.

Siapa sebenarnya kalian? Semoga kalian tetap menjadi orang baik seperti yang saya kenal pertama kali dan selamanya. Jangan berubah, saya mohon. Jangan membuat saya takut mempercayai kalian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s