Untuk Humaira

Besok kamu akan memakai toga, menghiasi dirimu dengan pakaian yang anggun. Kamu bilang padaku, di hari esok ketika kamu mengenakan jubah hitam yang sakral itu kamu akan mewarnai bibirmu dan matamu akan kamu tempeli dengan bulu mata palsu. Aku tahu kamu pasti akan terlihat sangat cantik. Bahkan mungkin teman-temanmu akan kalah cantik denganmu. Semoga besok adalah hari paling bahagia dalam hidupmu.

Bulan lalu, aku sempat bertekad untuk tidak akan datang melihatmu memakai toga. Tiga minggu yang lalu juga begitu. Tapi dua minggu sebelum ini, aku memutuskan untuk datang ikut memeriahkan acaramu. Aku menyadari, tidak perlu merasa malu dan rendah diri. Seharusnya aku bangga dan bahagia, kamu sudah lebih dulu mencapai tahap itu daripada aku. Aku juga tidak perlu merasa lebih bodoh dan tolol. Karena kamu bisa mengalahkanku yang seharusnya telah berkontribusi membuatmu sukses. Aku juga tidak seharusnya merasa kalah. Karena seharusnya aku mampu berbesar-hati menerima ini dan memaklumi segala keputusan-keputusan masa laluku yang tidak akan pernah aku sesali.

Aku dan kamu berada di posisi yang tepat. Aku dengan pribadi yang unik, memang harusnya berada dalam posisi ini karena orang itu adalah aku. Dan kamu memang seharusnya dalam posisi itu karena orang itu adalah kamu. Jika aku berada di dalam posisimu, aku yakin tidak akan sanggup menjalani tempaan di tempatmu menuntut ilmu. Mungkin aku sudah lebih gila dari diriku saat ini. Dan kamu  jika berada dalam posisiku, mungkin kamu akan hidup lurus-lurus saja. Kamu tidak akan hidup dan menetap di kota yang sangat panas dan bertemu dengan orang-orang hebat. Kamu juga tidak akan tahu rasanya memiliki tulisan yang terbit di koran dan majalah serta berpadu dalam beberapa buku. Kamu juga tidak akan dipanggil dan disalami oleh presiden penyair. Kamu juga tidak akan menyukai  hujan, kesunyian, kopi, dan kamu juga tidak akan mendengarkan lagu-lagu aneh yang biasa aku dengar sendiri. Kamu juga tidak akan berani memutuskan pindah kota lagi, dan tinggal di kota yang dingin serta sepi. Ya, aku tidak akan mampu jika berada dalam posisimu dan kamu juga tidak akan mampu jika berada dalam posisiku. Kamu hidup dengan lurus dan baik-baik. Sedangkan aku adalah orang yang risih dan takut apabila terlalu lama berada ditempat yang terlalu nyaman.

Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Saat aku sudah memutuskan untuk datang ke acaramu, ia datangkan hambatan lewat dosenku yang mengatakan bahkan ada kuliah pengganti tepat di hari kamu wisuda. Saat itu hanya sedikit kecewa dan memutuskan untuk pulang dan melihatmu pakai toga setelah kuliahku selesai. Hari ini, saat aku tahu kuliah di hari kamu wisuda ternyata tidak jadi, aku bahagia bisa pulang dan melihatmu panik di malam sebelum kamu wisuda. Tapi saat aku hendak pulang Tuhan mengirimkan hambatan lain, hujan deras di sore ini membuatku harus pulang ke kos dengan nyeker. sepatuku basah, bajuku basah, payung yang ke kembangkan tidak terlalu berguna. Tapi entah mengapa aku merasa lebih bahagia. Mungkin itulah rasanya jika kita sudah bisa ikhlas dan mensyukuri apa yang telah kita dapati, apa yang telah terjadi. Pada akhirnya, aku tidak bisa pulang ke rumah lebih cepat untuk melihat kepanikanmu menjelang wisuda besok. Aku yakin, kamu pasti sudah ngomel-ngomel dan marah-marah karena berbeda pendapat dengan mama soal ke salon atau tidak. Ya, itulah dirimu. Itulah yang selalu aku rindukan walau kita berdua sering bertengkar. Tapi aku selalu menyimpan haru saat kamu tidak pernah lelah menyemangatiku. Kamu tidak pernah tahu itu kan?

Aku punya cita-cita untuk menjadi orang yang bisa kamu banggakan. Aku selalu ingin menjadi orang yang bisa melindungimu. Aku selalu ingin dapat kamu andalkan. Aku tidak tahu bagaimana sosokku dari pikiranmu. Yang aku tahu, sampai saat ini aku masih selalu mengecewakanmu. Aku belum bisa menjadi orang yang dapat kamu andalkan. Aku tidak pernah membuatmu bangga.

Tapi beginilah aku.

Selamat “menempuh kehidupan” baru, dik. Semoga kamu bisa menyikapi keberhasilanmu dengan kerendahan hati dan pemikiran yang lebih dewasa.

Dosenku yang tidak jadi mengganti kuliah di hari sabtu itu menjelaskan tentang 3 tahap yang membuat hidupmu bermakna  (dari seorang tokoh):

1. Dengan menciptakan suatu karya (menghasilkan karya cipta)

2.Dengan mengambil sesuatu (hikmah) dari suatu perjalanan (pengalaman)

3. Dengan mampu menyikapi suatu penderitaan.

Jika 3 tahap itu sudah pernah kamu rasakan, maka hidupmu bermakna.

 

 

 

Dari kakakmu yang merasa dirinya keren 🙂

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s