A LETTER TO THE WORLD

999955_10203133234073448_1292521862_n

surat 1

Dear World,
I – who is living in Pekanbaru City, Riau Province, Indonesia – would like to tell the world how suffering we are here, living in the middle of smoggy city. The smog came up because of the burning of plantation field by people who are paid by owners of the plantation field to burn it. Owners of the plantation field can be persons or companies. Unfortunately, there is no significant acts from the government to solve this problem. Our Governor, who was just inaugurated couple months ago, just said he gave up of this situation. Don’t you think it’s such very ridiculous words uttered by a leader…?? Oh dear world, we have no OXYGEN anymore to breath.., our lungs are full of CARBONDIOXIDE.., our infants and children are threatened very hazardous disease in their future.., sooner or later, we must be digging our own tombs… Dear world.., would you please take a little bit look at us here.., and give us power to make us survive.., and tell the world that WE NEED A HELP because our government CANNOT HELP us…?

Me who is suffering of smog,
On behalf of citizens of Riau Province, Indonesia

Febby Fortinella Rusmoyo

March, 13, 2014

1517781_10152352589211614_2071444671_o

surat 2

Dear Yth. Presiden RI Bpk Susilo Bambang Yudhoyono,Yang sebentar lagi akan habis masa jabatannya.
Riau, dari sini Bahasa Indonesia berasal, Bahasa yg pernah membuat Nusantara satu.
Titik api di sekitar kami, bukanlah simbol kemarahan Tuhan, tapi simbol keserakahan dan bukti ketidakpedulian Negara, bukti kepongahan Jakarta trhdp Daerah.
Bapak mau kesini skrg? Bandara ditutup pak, lagipun tdk ada anak sekolah yg akan menyambut bapak, sekolah diliburkan.
Mau menempuh jalur darat? Bahaya pak, asap tebal tidak bagus buat kesehatan bpk dan ibu ani, lagian juga tdk bagus untuk objek foto Instagram.
Biarkan saja seperti ini, agar Riau bisa menjadi lahan sawit dan bisa ditanami tanaman Industri.
Biarkan saja seperti ini, kami ikhlas mati pelan-pelan karena ISPA, karena ketidak berdayaan kami di Daerah.
Kami Pasrah, Mungkin ini kehendak Tuhan. Bagi saudara/i kami di daerah lainnya, kami sgt berterima kasih atas doa yg selalu kalian panjatkan, mhn maaf krena kiriman asap Riau kalian jadi terganggu, jika kita tdk sempat bertemu muka, semoga kita bertemu di Surga nanti.

Sebarkan ini,semampu yg anda bisa.. Karena Kita INDONESIA.

(dari facebook ke facebook)

1921056_10203231160690128_2017749620_o

surat 3

Dear Pandji,

surat ini secara khusus aku tujukan kepada Pandji Pragiwaksono. Iya @pandji yang jadi panutan anak muda. Siapa sih anak muda yang tidak kenal @pandji ?

Waktu itu aku liat, @pandji datang ke Pekanbaru mengisi acara komunitas di sana yaitu @pekanwak. Mereka gembira banget akhirnya bisa bertemu langsung dengan sang idola. Aku harap mereka bukan hanya ingin foto bareng, tetapi juga mau melakukan sesuatu untuk kotanya, seperti yang selalu kamu serukan ” Berani Mengubah.”

Dear Pandji,

Sepertinya mereka terinspirasi dirimu, sehingga hari ini ketika Pekanbaru dihajar asap berkepanjangan, mereka bergerak melakukan sesuatu untuk menyelamatkan kotanya. Di media, Gubernur nya sudah menyerahkan urusan asap ini kepada Tuhan, padahal ketika membakar hutan untuk lahan sawit, jangan-jangan lupa permisi sama Tuhan. Pemerintah yang punya kekuasaan, dan dibayar oleh pajak rakyatnya berkewajiban untuk melindungi warganya, justru sudah menyerah kepada Tuhan. Lalu bagaimana nasib anak-anak yang tiap hari harus menghirup asap beracun? Sudah berapa korban berjatuhan menunggu Tuhan turun tangan menyelesaikan “kenakalan” manusia?

Dear Pandji,

aku tahu banyak anak muda yang mengikutimu. Kalau sekarang aku minta bantuanmu, apakah berkenan? Bantu suara-suara kecil di Pekanbaru agar menggema di social media. Dukung gerakan perubahan yang mereka lakukan, untuk mendapatkan hak yang paling dasar sebagai umat manusia : udara yang sehat. Aku tau pengikutnya banyak, siapa tahu karena ajakanmu mereka juga mau dan tergerak untuk membantu menyuarakan bencana yang sedang terjadi di Riau. Ini bukan soal Pekanbaru atau Sumatera, ini soal manusia yang terancam nyawanya karena harus menghirup asap yang berbahaya. Aku menyaksikan sendiri teman-teman dari Pekanbaru ketika mereka datang di acara workshop nasional Akademi Berbagi di Salatiga dengan susah payah. Ketidakjelasan waktu diterbangkan pesawatnya membuat mereka berjam-jam duduk di bandara dengan harap-harap cemas akankah mereka sampai di lokasi? Begitu juga ketika kembali. Lagi-lagi mereka harus menunggu di bandara dengan segala ketidakpastiannya, akankah mereka bisa pulang ke rumahnya. Bahkan hari ini yang aku dengar, bandara ditutup selama 3 hari. Mereka tidak bisa kemana-mana lagi. Harus menerima kotanya berasap, tanpa bisa meminta bantuan dari pemerintahnya.

Dear Pandji,

jika berkenan dukunglah langkah kecil mereka, menyuarakan #melawanasap #saveRiau untuk mendapat secuil perhatian bahwa kondisi ini sudah sangat memprihatinkan. Ajak siapa pun untuk menyebarkan gerakan ini, bikin posting singkat di twitter, facebook, blog, youtube, instagram, apapun itu untuk bersama-sama #melawanasap. Atau bikin foto bersama gunakan masker, pakai hastag #melawanasap untuk membuka mata kepada semua orang, Pekanbaru dalam bahaya, dan kita tidak bisa diam saja.

Terimakasih Pandji, semoga Tuhan membalas kebaikanmu, dan apa yang kamu lakukan terus menginspirasi anak-anak muda untuk mau bergerak dan peduli.

Salam, Ainun

___________

Di atas adalah beberapa surat-surat mengenai keluhan bencana kabut asap di Riau. Saya ingin menulis surat juga tapi dalam bahasa ingris agar dapat dibaca oleh masyarakat dunia. Berharap terjadi “gerakan” lain dari luar negara ini. Tapi saya kecewa terhadap diri sendiri dan malu, karena saya tidak begitu mahir bahasa ingris. —

Ya, walau pun saya bukan warga asli Pekanbaru, tapi saya pernah tinggal dan menetap di Pekanbaru. Jadi saya tahu betul bagaimana rasanya dikepung asap selama berhari2. Sekarang saya tinggal di Padang dan Bukittinggi. Dan kabut asap sudah menyebar dan mengepung langit di kota-kota ini. Sekarang, bukan hanya Riau saja yang darurat kabut asap, hampir seluruh wilayah Sumatera darurat kabut asap. Bahkan Bengkulu pun juga ikut merasakan kerugian dari kabut asap tersebut. Saya heran, mengapa pemerintah belum menetapkan bahwa kabut asap di Riau merupakan bencana nasional (rasanya belum ada pemberitahuan ini). Apa mereka harus tunggu jatuhnya korban jiwa ratusan orang baru mau bertindak dan panik?

Siapa saja, tolong bikin surat edaran atau artikel berbahasa inggris mengenai bencana kabut asap dan sebarkan di dunia maya sebanyak2nya agar dapat dibaca oleh dunia.  Jika pemerintah negara kita memang tidak terlalu merespon peristiwa ini, mana tahu dunia lebih merespon dan mau membantu kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s