dan ketika bercermin aku melihat kamu.

 

-menunggu orang-orang yang tak kau sukai itu rasanya “sesuatu” banget. maka kutulis ini di tempat yang sepi namun ramai.

 

aku meninggalkanmu di tengah keramaian hujan pada suatu siang. dari kejauhan, kulihat kau melangkah perlahan membuka kedua telapak tanganmu yang mulai memucat. matamu mulai memerah dan air hujan serta air mata menyatu di pipi dan bibirmu. kau seolah hendak menggapai tapi di sekitarmu adalah ruang yang tak berbatas. setiap kau genggam hanya air hujan yang membasahi.  segalanya menjadi cair berikut dengan dirimu. aku hanya tersenyum memperhatikanmu dari kejauhan. lihat, betapa lemah dan tak berdayanya kamu di sana. sendirian dalam keramaian hujan.

 

-sudah setengah jam aku duduk di depan mading yang lagi menampilkan macam-macam phobia unik, orang-orang yang kutunggu hanya lewat sambil berjanji akan kembali menemuiku sebentar lagi -di lorong itu. lalu setelah beberapa menit aku menunggu dengan hati gusar dan kepala yang mulai berasap, kudapati mereka telah membawa motor mereka melaju menuju rumah mereka. anjrit!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s