Pulang, hari ini menjadi kata paling susah ia ucapkan.

Sudah beberapa menit ia habiskan waktu duduk di samping tempat tidurnya dengan diam. Ia masih berusaha meyakinkan diri untuk tidak akan pergi kemana pun. apalagi pulang.selintas, ya… hanya selintas ia membayangkan pulang. melewati pagar yang di baliknya terdapat deretan bunga asoka merah, lalu ia bertemu pintu, dan ibu. ya, ibu. ibulah yang membuat ia susah mengeja kata pulang. Berkali- kali ia mencoba berusaha membuang pikiran-pikiran lain yang memanggil-manggilnya pulang. ia bahkan berteriak untuk sesuatu yang sangat sepele. mendadak kata pulang menjadi sesuatu yang paling memuakkan baginya. ia menghempaskan tas ranselnya yang masih kosong, mengambil sebuah buku cerita yang sudah satu bulan tidak bisa ia tamatkan, mengambil beberapa helai baju dan dompet. sambil merutuk, ia berteriak dan bangkit dari duduk. “Aku pulang!” serunya lalu setelah itu, ia mengutuk dirinya sendiri yang tak berdaya melawan hati dan pikirannya. dalam langkah menuju rumah, ia menangis sepanjang jalan. di dalam hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s