Ingatan yang lupa cara bunuh diri

Sudah mencoba untuk melupakannya, mengikhlaskannya. Ibu bilang, tak ada gunanya aku membicarakan itu sekarang. Masalalu sudah terlampau lama tertinggal. Cukuplah hanya ibu dan aku saja yang tahu, kata ibu. Ibu tidak mau keluarga selain aku dan ibu tahu. Ibu tidak mau hal ini menjadi masalah. Ibu ingin aku melupakan, mengikhlaskannya. Mendengar ucapan ibu, aku terpana. Salah tingkah. Mungkin juga marah. Tapi tidak bisa berkata sepatah katapun. Sejak itu, ingatan tentang hal itu semakin detail. Tak lagi samar dan buram seperti awal-awal aku kembali ingat. Semakin menyakitkan. Semakin menyedihkan. Ada ketakutan. Malu. Ketakutan. Lalu tertekan. Ibu, bagaimana caranya ini? aku mengingatnya setiap aku melihat apa pun. Lalu ibu kembali berkata, lupakan saja, ikhlaskan, diam saja, lupakan. Kembali, aku hanya terpana. Diam. Marah. Diam. Menangis. Tapi ibu, ingatan itu membangun rumah di dalam kepalaku. Di mulai dari ia membuat sketsa, pondasi, lantai dasar, sampai menjadi rumah. Ingatan itu terus membesar. Bermekaran. Dan semakin lupa cara bunuh diri.

Ibu, seandainya waktu itu selalu ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s