Rumah di ujung gang

[ini adalah sebuah “surat” yg dikirim lewat email kepada seorang teman]
.
.
.
.
.
dear, Mbob…
Aku menulis ini dari balik jendela kamar kosku yang begitu dilimpahi luapan sinar matahari. Dan ternyata membuat kepalaku sakit. Terpaksa aku tutup dengan tirai warna merah yang sudah robek.
.
.
.
Ini kali pertama kita kirim surat. Anggap saja, kita berkirim surat pakai kertas dan di kirim lewat pos (aku pengennya gitu tapi ternyata jaman sekarang itu menjadi kegiatan yang sangat ribet dan mahal tentunya). Atau mungkin kamu mau mengimajinasikannya dengan merpati pos.  Sebenarnya aku bingung dengan apa yang akan aku bicarakan padamu lewat pos ini. Hmm, tapi ada sesuatu dari ceritamu lewat sms waktu itu. Tentang cerpen Uyak yang judulnya “Rumah di seberang jalan” kalau tidak salah. Waktu awal-awal aku tinggal di Bukittinggi, aku sempat ingin bikin cerpen dengan judul yang sama. Tapi mungkin temanya beda.
Tak jauh dari kosku, di ujung gangnya ada sebuah rumah dengan model lama ala jaman 80an (di kota yang dingin ini memang banyak sekali rumah-rumah tua dari berbagai jaman).
Rumah itu punya pekarangan yang sangat luas, ditumbuhi bunga alamanda kuning, rerumputan dan beberapa tamanan rambat serta sebatang pinus yang tidak terlalu tinggi. Jendelanya masih terbuat dari kaca nako dan berjejer dari pintu masuk yang ada di depan dan dekat dengan jalan utama sampai ke sisi kiri ruma. Di belakang rumah itu menghadap ke kiri tepat di jalan keluar gang, ada semacam garasi yang hanya di tutupi pintu kayu besar. Beberapa kali aku mengintip ke dalamnya sambil jalan ke mini market di sebelahnya. Di dalamnya bisa di bilang sangat luas, aku melihat dapur dan meja makan yang sepi. Seekor kucing hitam yang gemuk sering kulihat duduk di balik pintu garasi yang terbuka tapi tidak terlalu lebar, seolah sedang menunggu. Kau tahu? kebanyakan rumah selalu memiliki warna. Ada putih, Krem, cokelat atau hijau daun atau seperti rumahmu (walau aku belum pernah ke sana tapi aku sering membayangkan bagaimana rumahmu). Tapi rumah ini tidak berwarna, Mbob. Rumah ini begitu adanya. Dindingnya hanya di semen seadanya tapi rapi. Tidak diamplas, tidak dicat. Aku tak tahu kenapa. Padahal kupikir rumah ini indah dan aku rasa bahkan mewah. Setiap kali lewat rumah itu aku selalu bertanya-tanya, mengapa rumah ini tidak diberi warna.
Aku pernah sekali dua kali melihat seorang wanita, mungkin umurnya kira-kira 50 tahunan, dengan rambut pendek sebahu yang sudah ditumbuhi uban. Wanita itu memakai bando dengan pita kupu-kupu di atasnya. Ia memakai rok selutut yang kembang dan baju ala tahun 80-an. Ia sedang duduk di kursi ruang makannya dengan seekor kucing hitam di bawah kakinya. Aku melihatnya sekilas karena rumahnya begitu banyak jendela yang tidak dipakaikan tirai atau apapun. Kamu bisa membayangkannya? Sepertinya rumah itu begitu sepi. Di kota ini banyak sekali rumah-rumah yang hanya diam. Tapi rumah yang ini lebih sepi dari rumah-rumah yang lain. Seolah hanya wanita itu dengan kucingnya saja yang tinggal. Mungkin ceritaku tidak begitu menarik, aku tidak pernah menceritakan rasa penasaran dan ketertarikanku ini pada siapapun di kota ini. Aku malas dibilang aneh.
Tapi setiap kali aku lewat di sana, aku ingin masuk kepekarangannya, mengetuk pintu, walau aku rasa di sana hanya ada kesunyian.
Rumahmu, pasti sangat ramai ya?
200213, Bukittinggi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s